Kamis, 27 September 2012

Pohon Pisang di Tengah Budaya Tradisi Masyarakat Indonesia

Pohon pisang di pojok gang
Ada Apa Dengan Pohon Pisang ?

Inilah buah dari sebuah matakuliah yang bernama Teknik Penulisan Ilmiah. Melihat judulnya saja, sudah dapat dibayangkan mengenai isi, proses, serta bagaimana cara belajar yang harus dilakukan agar seluruh materi matakuliah tersebut dapat dipahami. Seperti yang penulis alami pada waktu studi yang telah lalu, matakuliah yang bernama Metodologi Penulisan Ilmiah yang harus dilakoni dengan mata terbuka lebar, kosentrasi tinggi, energy yang besar, disiplin yang ketat, dan lain-lain yang membuat segala hal terasa berat. Tapi tidak, hal itu tidak terjadi pada matakuliah Teknik Penulisan Ilmiah yang penulis tempuh saat ini. Dosen pengampu matakuliah Prof. Drs. M. Dwi Marianto, MFA.,PhD. begitu “cantik” dalam membawakan matakuliah yang terkesan kaku dan rumit ini.

Suatu hari di penghujung perkuliahan, Prof. M. Dwi Marianto menyampaikan pentingnya insight dalam sebuah karya ilmiah yang dibuat. Insight merupakan sebuah persepsi yang unik, yang personal mengenai sudut pandang kita dalam melihat sebuah permasalahan. Seperti perkuliahan pada umumnya, beliau memberikan sebuah tugas paper kepada seluruh mahasiswa sebagai pemenuhan nilai matakuliah. Perintahnya cukup sederhana, “Sepulang dari perkuliahan menuju rumah atau tempat kost, di jalan yang dilewati, banyak hal yang seringkali terabaikan oleh pandangan kita, temukan sebuah benda, amati segala yang ada dalam benda itu, buat dia semula tidak ada, menjadi ada dalam benak kita”. Dibalik perintah yang cukup sederhana tersebut terdapat sebuah makna pentingnya observasi dalam penyusunan karya imiah. Akhirnya, bertemulah penulis dengan pohon pisang, pohon pisang yang selama ini peranannya disepelekan, dan dianggap sebagai pohon tidak penting, yang sebenarnya jika kita lakukan pengamatan, ternyata lebih dari itu.

Pohon Pisang di Pojok Gang

Sore hari sepulang dari kampus penulis berjalan kaki menuju ke tempat kost, mencoba mengamati apa yang ada. Berdirilah beberapa pohon pisang di sudut jalan belok menuju gang tempat kost, letaknya tidak teratur, mungkin penanamnya tidak berpikir sampai disitu waktu menanamnya. Bentuknya jelek, banyak daun kering dimana-mana, satunya lagi hampir roboh, terdapat kandang ayam dibawahnya, meskipun hampir mati, sepertinya pohon pisang ini masih ingin menaungi, dan berguna bagi makhluk yang hidup dibawahnya. Pohon pisang yang buruk rupa ini merupakan tumbuhan Terna (Terna adalah tumbuhan yang batangnya lunak karena tidak membentuk kayu (http://www.dherba.com.my, diakses pada 30 Agustus 2012), berdaun besar memanjang dari suku Musaceae, menghasilkan buah konsumsi yang dinamakan pisang. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam di beberapa daerah di Indonesia.

Di desa-desa, menanam pisang sudah menjadi sebuah tradisi, ketika seseorang memiliki tempat tinggal dengan halaman yang sedikit luas, sudah dapat dipastikan ia akan menanam pohon pisang disamping pohon lainnya. Hal ini menandakan bahwa pisang memiliki nilai guna yang tinggi bagi kebutuhan hidup masyarakat Indonesia, yang perlu digarisbawahi ialah bahwa nilai energi pisang sekitar 136 kalori untuk setiap 100 gram, yang secara keseluruhan berasal dari karbohidrat. Nilai energi pisang dua kali lipat lebih tinggi daripada apel. Apel dengan berat sama (100 gram) hanya mengandung 54 kalori. Kebergunaan pohon pisang utamanya pada kalangan tradisi, baik untuk kebutuhan rumah tangga, bahan makanan, pengobatan hingga pada kebutuhan ritual. Hubungan kedekatan antara pisang dengan masyarakat Indonesia, sudah terbangun sejak dahulu, ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dikaji dari pohon pisang ini.

Pisang Dalam Sebuah Melodi

Begitu dekatnya buah pisang dengan masyarakat Indonesia, sehingga pisang ikut terbawa dalam budaya tradisi dolanan yang sudah menjadi tradisi di setiap daerah di Indonesia. Jika suku Jawa memiliki Cublek-cublek Suweng yang dikenal sebagai lagu dolanan, maka suku Banjar juga memiliki lagu dolanan yakni Ampar-ampar Pisang. Ampar-ampar Pisang berasal dari Kalimantan Selatan dan sudah dikenal di seluruh Indonesia. Tidak ada artikulasi khusus dalam syair lagu ini, karena memang lagu ini hanya permainan kata dalam Bahasa Banjar, biasanya digunakan untuk permainan anak-anak dengan cara menepuk kaki sambil membaca syair tersebut.

Bahasa Banjar
Bahasa Indonesia
Ampar-ampar pisang
Pisangku balum masak
Masak sabigi, dihurung bari-bari
Masak sabigi, dihurung bari-bari

Manggalepak, manggalepok
Patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api, apinya kakurupan
Bengkok dimakan api, apinya kakurupan

Nang mana batis kutung,
dikitip bidawang
Jari kaki sintak, dahuluakan masak
Jari kaki sintak, dahuluakan masak

Ampar-ampar pisang
Pisangku balum masak
Masak sabigi, dihurung bari-bari
Masak sabigi, dihurung bari-bari

Mangga ricak, mangga ricak
Patah kayu bengkok
Tanduk sapi, tanduk sapi, kulibir bawang
Tanduk sapi, tanduk sapi, kulibir bawang
Susun-susun pisang
Pisangku belum masak
Masak sebutir (sebuah),
Dipenuhi bari-bari*

Manggalepak, manggalepok (bunyi dahan/kayu yang patah)
Patah kayu yang bengkok
Yang bengkok dilalap api
apinya hampir padam
siapa kaki yang buntung, berarti dimakan oleh bidawang**

Mangaricak, mangaricak
(bunyi kayu yang patah diseruduk sapi)
Patah kayu yang bengkok
Diseruduk sapi, diseruduk sapi, kulit bawang
Diseruduk sapi, diseruduk sapi, kulit bawang

*) Sejenis binatang kecil yang biasa memenuhi buah-buahan, sampah, dll selain lalat.
**) Sejenis binatang penyu.

Lagu ini diciptakan oleh Hamiedan AC., yang juga dianugerahi Borneo Award 2011 atas kiprahnya dalam dunia seni dan budaya Kalimantan Selatan. Karya almarhum Hamiedan sudah dinyanyikan oleh artis-artis ternama seperti Emilia Contesa dan Titik Sandora, dan lagu yang paling popular adalah Ampar-ampar pisang, sehingga tidak heran jika beliau mendapatkan penghagaan.

Daun Pisang Sebagai Packaging Warisan Nenek Moyang

Nasi kucing di kawasan Tugu
Bungkus makanan yang terbuat dari daun pisang mengesankan kekhasan kuliner tradisional Indonesia. Beberapa hari yang lalu, penulis menyempatkan diri untuk sekedar berkeliling di sekitar Tugu Yogyakarta, lalu singgah di sebuah angkringan yang cukup ramai. Penulis memperhatikan bahwasannya hampir sebagian besar nasi kucing dibungkus dengan menggunakan daun pisang, dan kertas bungkus di bagian luarnya. Daun pisang yang lebar dan lentur cocok dipakai untuk masakan maupun kue. Makananpun menjadi wangi sedap. Jarang sekali di belahan dunia manapun sebuah kemasan dapat juga berfungsi sebagai penyedap atau pengharum makanan. Kemasan dari dau pisang merupakan warisan nenek moyang yang patut untuk dilestarikan. DetikFood.com membagi menjadi 12 bentuk bungkus daun pisang asli Indonesia.

 
12 Macam bentuk bungkus daun pisang
Nusantara sungguh kaya akan khasanah kebudayaan, bungkus daun pisang merupakan salah satu budaya tradisi yang patut untuk kita pertahankan dalam perjalanannya. Disamping menambah aroma makanan, bungkus pisang juga relatif aman, karena merupakan kemasan dengan bahan dasar alam. Bagi jenis-jenis makanan yang memang tidak membutuhkan waktu penyimpanan lama, bungkus pisang menjadi lebih aman dibandingkan dengan tas plastik, kertas, atau bahan-bahan sintetis lain yang mengeluarkan bahan kimia pada suhu tinggi.

Pisang dalam Cita Rasa Nusantara

Lodeh jantung & pelepah pisang
Ternyata jauh dari apa yang diperkirakan orang kebanyakan, seluruh bagian pohon pisang dapat dimakan kecuali pada bagian daun, batang buah, dan akar pohon pisang. Jantung pisang, atau yang biasa disebut dengan onthong, berikut juga dengan pelepah pisang-nya (gedebhog). Memang rasanya sedikit pahit dan terasa ganjil, namun hal inilah yang menjadikan masakan tersebut memiliki nilai keunikan tersendiri dibanding jenis masakan yang lain. Jantung dan pelepah pisang biasanya dimasak lodeh, atau jika suka dapat dicampur dengan sambal terasi. Lodeh sendiri merupakan sebuah jenis masakan sayur bersantan yang berasal dari Jawa, kebanyakan menggunakan nangka muda (tewel) sebagai bahan dasar, namun di beberapa daerah di Nusantara juga menggunakan kacang panjang, tahu, dan tempe sebagai bahan campurannya.

Sedangkan untuk kue atau makanan olahan pisang, sangat beraneka ragam, tersebar di seluruh bagian Nusantara. Selain memberikan kontribusi gizi lebih tinggi daripada apel, pisang juga dapat menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Termasuk ketika otak mengalami keletihan. Beragam jenis makanan ringan dari pisang yang relatif populer antara lain keripik pisang asal Lampung, sale pisang (Bandung), pisang molen (Bogor), dan epe (Makassar). Pisang mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan energi cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Pisang juga mengandung vitamin, yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak.

Beberapa jenis makanan ringan berbahan pisang di Indonesia
Daun pisang dapat digunakan untuk pengobatan kulit yang terbakar dengan cara dioles, campuran abu daun pisang ditambah minyak kelapa mempunyai pengaruh mendinginkan kulit. Fungsi dan jenis-jenis makanan olahan pisang tentunya masih banyak lagi, tidak hanya sebatas apa yang dipaparkan disini.

Pisang dalam Kesederhanaan Anak-anak

Tiba-tiba penulis menjadi teringat akan masa kecil, dimana dahulu jenis mainan belum begitu banyak, disamping itu harga-nya yang terlampau mahal menjadi mainan tersebut tak terbeli. Namun hal ini tidak terjadi pada masa sekarang, anak-anak sepertinya sudah lebih tertarik dengan Video Game dibandingkan dengan mainan-mainan yang sebenarnya justru mengarahkan mereka untuk bersosialisasi. Hal ini didukung pula oleh sikap orang tua yang melarang anaknya untuk keluar rumah dengan alasan keamanan. Namun begitu, penulis mengamati hal ini banyak terjadi pada lingkungan perkotaan, lingkungan yang urban, lingkungan yang masyarakatnya telah bekehidupan modern, sehingga budaya tradisi yang sebenarnya memiliki nilai-nilai kearifan dan tujuan yang luhur, tergilas habis oleh moderenitas dan perkembangan teknologi.

Tidak pada semua daerah mengalami keadaan tersebut. Dibeberapa daerah, khususnya kota-kota kecil yang sedang berkembang, masih dijumpai anak-anak yang bermain dengan mainan-mainan tradisi ini. Di daerah asal penulis, di pinggir kota Malang – Jawa Timur, seringkali dijumpai anak-anak sedang memainkan senapan mainan yang terbuat dari pelepah pisang. Juga di Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur, anak-anak mengisi liburan sekolah dengan hal yang kreatif. Mereka sengaja membuat mainan dari batang pohon atau gedebok pisang.

Beberapa jenis mainan yang terbuat dari pelepah pisang
Pertama batang atau gedebok pisang dipotong-potong kemudian dibentuk jadi badan. Setelah itu gedebok digabung dengan lidi dilengkapi dengan roda-roda. Jadilah, mobil balap batang pisang. Anak-anak di Desa Pacar Peluk, sungguh telah memberi wawasan. Ternyata untuk bergembira tidak perlu permainan mahal.

Pisang dalam Spiritualitas Masyarakat Indonesia

Perang pisang di Bali
Ada yang menarik dari Propinsi Bali daerah Desa Tenganan Daud Tukad, ada sebuah ritual yang disebut dengan perang pisang. Perang tidak selalu memiliki arti sebagai klimaks dari sebuah permusuhan yang memakan korban. Beberapa remaja bertelanjang dada sedang beraksi dalam ritual perang pisang. Tradisi perang pisang atau biasa disebut mesabatan biu itu dalam rangka memilih ketua dan wakil ketua Sekaa Teruna. Perang pisang dilakukan untuk menguji mental dan kedisiplinan para calon.

Prosesnya yakni ada sedikitnya 16 pemuda yang dipilih oleh Kelian adat sebagai lawan dalam perang melawan calon ketua dan wakil ketua oleh kelompok pemuda desa tersebut. Keseluruhan pemuda yang berjumlah 16 orang itu kemudian berkumpul disudut desa, ujung desa yang merupakan tempat mereka untuk mengganti pakaian. Baju mereka diganti dengan pakaian adat, kain kamben, dan penutup kepala yang disebut dengan udeng. Pelaksanaan perang unik sendiri dilaksanakan berbarengan dengan Aci Katiga (upacara pada bulan ketiga dalam sistem penanggalan Tenganan). Sebelum perang dimulai, biasanya para pemuda akan terlebih dulu memetik buah pisang yang akan digunakan dalam berperang. Di ujung jalan yang berlawanan, berdiri dua pemuda yang akan menjadi lawan, mereka adalah calon ketua dan wakil ketua kelompok pemuda desa. Perang ini baru akan dianggap selesai kalau kedua calon pemimpin tersebut sudah memasuki pura yang menjadi terminal perjalanan mereka yang berperang.

Selain itu, penggunaan pisang sebagai bahan ritual juga digunakan di Kabupaten Gunung Kidul dalam tradisi ngalap berkah. Ritual ini adalah ritual bersih sumber air Kyai Sejati di Gunungbang, Bejiharjo, Karangmojo. Dalam ritual tersebut terdapat wadah kenduri yang disebut dengan encek, yang terbuat dari batang pisang berukuran sekitar seperempat meter dijajarkan di sebuah pendapa kecil di tepi Sungai Oya. Encek tersebut juga berisi berbagai hasil bumi seperti pisang, padi, jadah, ubi rebus dan ingkung ayam. Adapun ritual bersih Kyai Sejati adalah ritual yang digelar untuk membersihkan tiga sumber air yang dikeramatkan warga setempat. Ketiganya terletak berdekatan di sekitar pendapa, yakni sumur lanang, sumur wedok, dan comberan. Konon, sumber air tersebut merupakan peninggalan Sunan Kalijaga. Warga bahkan mempercayai sumber air itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Pisang sebagai “Makanan Penutup”

Jelasnya lebih banyak lagi keterlibatan pisang dalam tradisi masyarakat. Jika dilihat dari keterlibatan pohon pisang yang mencakup banyak aspek tradisi masyarakat Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwasannya kedekatan antara dua makhluk hidup ini sudah ada, dan telah terjalin sejak zaman nenek moyang. Pohon pisang yang keberadaannya seringkali luput dari pandangan mata, disepelekan, dianggap tidak berarti, ternyata berpengaruh, dan memiliki andil yang besar dalam budaya tradisi di Indonesia. Hendaknya kita dapat mengambil hikmah, dan selalu menghargai setiap kehidupan di muka bumi ini, karena setiap makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan bukan tanpa alasan.

3 komentar:

Arung's Blog mengatakan...

siip gan akhirnya gue dapat juga informasi tentang pisang, beserta arti dari lagu ampar-ampar pisang. mantap gan

Aditya Nirwana mengatakan...

Oke gan..syukur kalo bisa berguna :)

luceline chandra mengatakan...

YUK JOIN SITUS POKER ONLINE AMAN DAN TERPERCAYA WWW.DKIPOKER.COM BURUAN GABUNG...